TRENGGALEK – Kajian tersebut mengangkat enam topik yang menjadi fokus perhatian selama tahun 2010-2013, antara lain (1) Kepuasan dan harapan pemustaka terhadap layanan sarana dan prasarana layanan bidang layanan koleksi umum (LKU), (2) Kebutuhan pemustaka terhadap koleksi ilmu terapan dan keterpakaiannya di bidang LKU, , (3) Pemanfaatan koleksi surat kabar, (4) Pengukuran tingkat kepuasan pemustaka terhadap layanan perpustakaan dan informasi di bidang LKU, dan (5) Kualitas layanan referensi di Perpustakaan.

“Kajian dibuat untuk mengukur sejauh mana kebermanfaatan, tingkat kepuasan, persepsi pemustaka, dan hambatan yang dirasakan baik oleh pemustaka maupun pustakawannya,” .

Sedangkan, untuk pemanfaatan koleksi ilmu alam, matematika, ilmu terapan, kesenian, olahraga, dan kesusastraan kurang diminati, karena responden lebih menyukai koleksi geografi dan sejarah.

Sedangkan kebutuhan pemustaka terhadap koleksi ilmu terapan sedikit lebih tinggi dibanding dengan keterpakaian koleksi ilmu terapan. Dan pemanfaatan koleksi surat kabar langka justru didominasi oleh mahasiswa (85%), sisanya dimanfaati oleh karyawan, pelajar SMA, dosen, peneliti, dan umum. Sejarah menjadi subjek surat kabar langka yang paling banyak dibaca pemustaka. Adanya web (situs) dan internet menjadi sumber informasi utama pemustaka ketika mencari kebutuhan informasi mereka. Web dan internet dianggap media paling efektif untuk mempromosikan koleksi dan layanan, khususnya pada koleksi surat kabar langka.

Untuk koleksi Indonesiana, artikel mengenai Indonesia ini adalah data dan informasi yang paling banyak dicari para pemustaka, sedangkan koleksi majalah luar negeri kurang diketahui karena minimnya sarana penelusuran dan promosi.

Secara umum, tingkat kepuasan pemustaka terhadap koleksi yang dimiliki LKU mencapai 70,54%, sedangkan dalam aspek pelayanan LKU mencapai 74,5%. Angka tersebut mengindikasikan bahwa pemustaka cukup puas dengan koleksi dan pelayanan di bidang LKU. Untuk tingkat kepuasan pemustaka terhadap pustakawan adalah 76,88%, sedangkan kepuasan pemustaka terhadap sarana dan prasarana LKU berada di angka 64,22%. “Meski cukup menggembirakan, tapi ini belum signifikan.

Agar koleksi yang ada sesuai minat dan kebutuhan perlu analisis terlebih dulu sebelum melakukan pengadaan dan pemilihan koleksi. Namun, terhadap koleksi-koleksi yang tingkat pemakaiannya rendah membutuhkan ekstra perhatian, informasi dan promosi yang gencar. Hal mutlak lainnya adalah penyediaan ruang baca, interior, mebel, pendingin ruangan, penerangan, kebersihan ruangan serta atmosfir baca yang harus tetap baik dan nyaman.

Pustakawan adalah ujung tombak dari pelayanan. “Kalau tombaknya tumpul, bisa berujung pada ketidakpuasan pemustaka. Untuk itu, Perpustakaan berencana akan terus mengikutsertakan tenaga pustakawan yang dimilikinya mengikuti sejumlah pendidikan, training, magang, seminar dan berbagai workshop di tingkat propinsi maupun tingkat pusat. Hal ini dimaksudkan agar pustakawan mampu menjadi petugas referensi yang baik. Tidak hanya melayani sirkulasi bahan pustaka saja.