Tetapi perlu diingat bahwa kemampuan informasi yang bisa diandalkan dan super lengkap adalah perpustakaan jawabannya. Saya pribadi gemar berkunjung ke toko buku. Tetapi, untuk membaca secara leluasa tanpa ada pantauan dari sang petugas jaga (karyawan toko) tidak selalu berjalan mulus.

Kadangkala ada pikiran dalam benak kita bahwa kita merasa nggak enak sudah baca lama-lama tapi buntutnya tidak membeli. Apalagi, jika berjam-jam karyawan toko selalu memperhatikan keberadaan kita. Saya pun memahami bahwa niat beli atau tidak terhadap buku, karyawan toko tidak peduli sama kita. Tetapi, ada perasaan bersalah pada diri kita, bukan? Wong, sudah baca berjam-jam masa nggak beli satu pun buku yang ada. Apalagi, jika buku yang menarik kita baca adalah bekas kondisi tersegel plastik dan terpaksa dibuka paksa untuk dibaca.

Maaf, bukan pengalaman pribadi, tapi pengalaman orang lain. Oleh sebab itu, untuk menghilangkan perasaan tidak enak, maka mengunjungi perpustakaan menjadi cara terbaik untuk tempat membaca secara leluasa. Yang penting kita mau berapa lama untuk membacanya. Hal saya lakukan adalah mengunjungi Perpustakaan Provinsi Bali. Karena kebetulan mencari nafkah di Pulau Dewata tersebut.

Saya memahami bahwa mengunjungi perpustakaan masih merupakan kebiasaan yang belum digemari orang. Pengunjung yang sering datang ke Perpustakaan Bali mayoritas mahasiswa yang sedang mencari rujukan atau literatur. Itu pun sering terlihat ramai pada hari Jumat-Minggu. Pada hari-hari di luar hari-hari tersebut hanya segelintir orang yang memanfaatkannya untuk membaca buku. Biasanya, orang yang datang hanya duduk-duduk bagian depan lantai 2 perpustakaan yang telah tersedia kursi sofa untuk mendapatkan fasilitas free WIFI.

Lumayan! Sepinya pengunjung yang datang ke perpustakaan menunjukan bahwa gemar membaca buku masih belum menjadi hal penting bagi masyarakat, khususnya anak sekolah atau mahasiswa. Kita sering terlena dengan informasi yang kita dapatkan dari gadget. Dari memanfaatkan fasilitas media sosial seperti: facebook, twitter, instagram, line dan lain-lain sampai permainan atau game yang menarik untuk mengisi waktu luang.

Padahal, jika kita berkunjung ke Perpustakaan, seperti Perpustakaan Provinsi Bali, kita bisa mendapatkan ilmu dari berbagai jenis buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu. Dari buku anak-anak sampai buku untuk referensi. Pokoknya semua ada. Lantai ke-2 perpustakaan, kita bisa mendapatkan informasi berbagai macam surat kabar atau majalah yang terbaru sampai majalah-majalah lama yang dikemas dalam sebuah “jilidan”. Sedangkan jika kita melangkah ke lantai atas (lantai ke-3), kita bisa mendapatkan berbagai jenis buku yang terpajang rapi di rak.

Tinggal kita pilih sesuai dengan selera atau minat kita. Kita bisa membacanya di tempat atau dibawa pulang jika kita mempunyai kartu anggota perpustakaan sebanyak 3 buah. Bagi yang mempunyai kartu anggota perpustakaan, setiap peminjaman maksimal kita bisa meminjam 3 buku apa saja dan jangka waktunya selama 15 hari. Jika terlambat mengembalikan sesuai waktu yang ditentukan, maka kita wajib membayar denda sebesar Rp. 300,- per buku/hari. Tentunya kita pun selalu disiplin dalam mematuhi perturan. Betul tidak?

Usaha Pemerintah untuk meningkatkan gemar membaca pun dilakukan dengan cara menjemput bola. Dengan tujuan, masyarakat semakin diberi kemudahan untuk memperoleh ilmu melalui buku. Proses mendekatkan masyarakat melalui buku dilakukan oleh Dinas Perpustakaan Provinsi Bali dengan mengoperasikan Mobil Perpustakaan Keliling dan mengemban moto “Membaca: Cara pinter buat pinter”. Jadi, kalau kita ingin pintar dan membuka jendela dunia caranya adalah membaca buku. Masihkah kita mau berkunjung ke perpustakaan?.